- 1. Perkembangan Kognitif Anak Tunalaras
Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Prestasi yang rendah di sekolah disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka alami. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka memiliki intelegensi yang rendah. Memang anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru karena diantara anak yang tunalaras juga ada yang mengalami keterbelakangan mental. Kelemahan dalam perkembangan kecerdasan ini justru yang menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku. Masalah yang dihadapi anak dengan intelegensi rendah di sekolah adalah ketidakmampuan untuk menyamai teman-temannya, padahal pada dasarnya seorang anak tidak ingin berbeda dengan kelompoknya terutama yang berkaitan dengan prestasi belajar. Mengenai hal ini Ny. Singgih Gunarsa (1982) mengemukakan bahwa kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya menimbulkan kesulitan pada anak dengan cara penyelesaian yang seringkali tidak sesuai dengan cara penyesuaian yang wajar.
Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar dapat menyebabkan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya: membolos, lari dari rumah, berkelahi, mengacau dalam kelas, dan sebagainya. Akibat lain dari kelemahan intelegensi ini terhadap gangguan tingkah laku adalah ketidakmampuan anak untuk memperhitungkan sebab akibat dari suatu perbuatan, mudah dipengaruhi serta mudah pula terperosok ke dalam tingkah laku yang negatif.
Disamping anak yang berintelegensi rendah, tidak berarti anak yang memiliki intelegensi tinggi tidak memiliki masalah. Anak berintelegensi tinggi seringkali memiliki masalah dalam penyesuaian diri dengan teman-temannya. Ketidaksejajaran antara pekembangan intelegensi dengan kemampuan sosial mengakibatkan anak mengalami kesulitan penyesuaian diri dengan kelompok anak yang lebih tua (tetapi setara dalam kemampuan mentalnya). Anak yang pintar dengan hambatan ego emosional seringkali mempunyai anggapan negatif terhadap sekolah. Ia menganggap sekolah terlalu mudah dan guru menerangkan terlalu lambat.
Masalah lain yang dihadapi anak ini dalam hubungannya dengan orang lain adalah sikap tidak mau kalah. Mereka selalu ingin berhasil dan tidak mau ikut dalam permainan dengan kemungkinan dikalahkan orang lain. Hal ini nampak dari sikap anak yang selalu ingin lebih unggul dari teman-temannya sehingga apabila suatu waktu dia mengalami kekalahan, maka ia cenderung untuk selalu merasa mudah kecewa.
- 2. Perkembangan Kepribadian Anak Tunalaras
Kepribadian merupakan struktur yang unik, tidak ada dua individu yang memiliki kepribadian sama. Para ahli mendefinisikan kepribadian sebagai suatu organisasi yang dinamis pada sistem psikofisis individu yang turut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam berbagai kelompok dan akan mempengaruhi kesadaran sebagai bagian dari kepribadian akan dirinya. Dengan demikian kepribadian akan menjadi penyebab seseorang berperilaku menyimpang. Menifestasi kepribadian yang teramati tampak dalam interaksi individu dengan lingkungannya, dan pada dasarnya interaksi ini sebagai upaya bentuk pemenuhan kebutuhan.
Tingkah laku yang ditampilkan orang ini erat sekali kaitannya dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Sejak lahir setiap individu sudah dibekali dengan berbagai kebutuhan dasar yang menuntut pemenuhan kebutuhan, dan untuk itu setiap individu senantiasa berusaha memenuhinya yang diwujudkan dalam berbagai lingkungannya. Konflik psikis dapat terjadi apabila terjadi benturan antara usaha pemenuhan kebutuhan dengan norma sosial. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian konflik, dapat menjadikan stabilitas emosi terganggu. Selanjutnya mendorong terjadinya perilaku menyimpang dan dapat menimbulkan frustasi pada diri individu. Keadaan seperti ini yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan dapat menimbulkan frustasi pada diri individu. Apabila keadaan ini berkepanjangan maka dapat menimbulkan gangguan.
- 3. Perkembangan Emosi Anak Tunalaras
Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari tingkah laku anak tunalaras. Ciri yang menonjol pada mereka adalah kehidupan emosi yang tidak stabil, ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat, dan pengendalian diri yang kurang sehingga mereka seringkali menjadi sangat emosional. Terganggunya kehidupan emosi ini terjadi sebagai akibat ketidakberhasilan anak dalam melewati fase-fase perkembangan.
Kematangan emosional seorang anak ditentukan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, dimana anak belajar tentang bagaimana emosi itu hadir dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi-emosi tersebut. Perkembangan emosi ini berlangsung terus menerus sesuai perkembangan usia, akan banyak pula pengalaman emosional yang diperoleh anak.ia semakin banyak merasakan berbagai macam perasaan. Akan tetapi tidak demikian dengan anak tunalaras. Ia tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan menghayati berbagai macam emosi yang mungkin dapat dirasakan, kehidupan emosinya kurang bervariasi dan ia pun kurang dapat mengerti dan menghayati perasaan orang lain. Mereka juga kurang mampu mengendalikan emosinya dengan baik sehingga seringkali terjadi peledakan emosi. Ketidakstabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misalnya: mudah marah dan mudah tersinggung, kurang mampu memahami perasaan orang lain, berperilaku agresif, menarik diri, dan sebagainya. Perasaan-perasaan seperti itu akan mengganggu situasi belajar dan akan mengakibatkan prestasi belajar yang tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
http://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya/
- 4. Perkembangan Sosial Anak Tunalaras
Sebagaimana telah kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau lingkungannya. Hal ini tidak berarti bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membentuk hubungan sosial dengan semua orang. Dalam banyak kejadian ternyata mereka dapat menjalin hubungan sosial yang sangat erat dengan teman-temannya. Mereka mampu membentuk suatu kelompok yang kompak dan akrab serta membangun keterikatan antara yang satu dengan yang lainnya.
Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik tehadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tak berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka. Apabila berhasil sekalipun mereka akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya.
http://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya/
posting ini fontnya terlalu kecil, tapi tampilan secara keseluruhan sudah bagus :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus