- Faktor Internal
1. Kondisi/Keadaan Fisik
Telah banyak tulisan maupun penelitian yang mengupas masalah kondisi/keadaan fisik dalam kaitannya dengan masalah gsangguan tingkah laku, baik yang merupakan akibat langsung maupun yang tidak langsung.
Ada sementara ahli yang meyakini bahwa disfungsi kelenjar endokrin dapat mempengaruhi timbulnya tingkah laku, atau dengan kata lain kelenjar endokrin berpengaruh terhadap respon emosional seseorang. Bahkan dari hasil penelitiannya, Gunzburg (dalam Simanjuntak, 1947) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endokrin merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar endokrin ini mengeluarkan hormon yang mempengaruhi tenaga seseorang. Bila terus-menerus fungsinya mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan wataknya.
Kondisi fisik ini dapat berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun sensoris yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Kecacatan yang dialami seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan baik berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya.
Masalah ini menjadi kompleks dengan adanya sikap atau perlakuan negatif dari lingkungan. Sebagai akibatnya, timbul perasan rendah diri, perasaan tidak berdaya/tidak mampu, mudah putus asa, dan merasa tidak berguna sehingga menimbulkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan pergaulan atau sebaliknya, memperlihatkan tingkah laku agresif, atau bahkan memanfaatkan kelainannya untuk menarik belas kasihan lingkungan. Dengan demikian jelaslah bahwa kondisi/keadaan fisik yang dinyatakan secara langsung dalam ciri-ciri kepribadian atau secara tidak langsung dalam reaksi menghadapi kenyataan memiliki implikasi bagi penyesuaian diri seseorang.
2. Masalah Perkembangan
Erikson (dalam Singgih D. Gunarsa, 1985:107) menjelaskan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi mengatasi krisis ini, maka perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga individu dapat mnyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sebaliknya apabila individu tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terutama terjadi pada masa kanak-kanak dan pubertas.
Adapun ciri yang menonjol pada masa kritis ini adalah sikap menentang dan keras kepala. Kecenderungan ini disebabkan oleh karena anak yang sedang menemukan ‘aku’-nya. Anak jadi marasa tidak puas dengan otoritas lingkungan sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-ledak, misalnya: marah, menentang, memberontak, dan keras kepala.
- 3. Keturunan
Model konseptual dalam pendekatan biologi memandang bahwa apa yang dimiliki anak berkaitan dengan faktor genetik (Hallahan & Kauffman, 1991). Faktor genetik memberikan konstribusi terhadap kondisiSchizophrenia (Plomin, 1989). Walaupun demikian, untuk gangguan perilaku dalam kategori sedang dan berat secara spesifik tetap masih dalam misteri. Contoh anak autisme adalah bentuk kekacauan neurologis, tetapi penyebab kelainan neurologis tersebut tidak dapat diketahui (Hallahan & Kauffman, 1991).
Salah satu hasil penelitian spektakuler di bidang biologi tentang rekayasa genetika telah dibuat mendell. Hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa keturunan mempunyai peranan kuat dalam meahirkan generasi berikutnya.implementasi teori tersebut dalam identifikasi ketunalarasan bahwa keturunan memberikan banyak bukti bayi yang dilahirkan dalam keadaan abnormal berasal dari keturunan yang abnormal pula. Keabnormalan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang tuanya memberikan konstribusi ketunalarasan kepada generasi berikutnya (Patton, 1991). Beberapa perilaku menyimpang tersebut diantaranya kawin sedarah, seks maniak, alkoholisme, kleptomania, gangguan kepribadian, dan lain-lain.
- 4. Faktor Psikologis
Meier dalam penelitiannya, menghubungkan antara variabel frustasi dengan perilaku abnormal memperoleh kesimpulan bahwa seorang yang mengalami kesulitan memecahkan persoalan akan menimbulkan perasaan frustasi. Akiat frustasi tersebut akan timbul konflik kejiwaan. Bagi individu yang memiliki stabilitas kepribadian yang baik, konflik psikologis tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Namun, bagi mereka yang memiliki kepribadian neurotik, konflik tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik. Akibatnya, timbul perilaku menyimpsng sebagai defence mechanism. Perilaku-perilaku tersebut diantaranya agresivisme (suka memberontak, mencela, memukul, merusak), regresivisme (perilaku yang kekanak-kanakan), resignation (perilaku yang kehilangan arah karena ketidakmampuan mewujudkan keinginannya karena tekanan otoritas).
- 5. Faktor Biologis
Hubungan faktor biologis secara khusus dengan keadaan kelainan perilaku dan emosi sangat jarang ditemukan, sebab kelainan perilaku dan kelainan emosi tidak dapat dideteksi melalui kerusakan biologis. Adakalanya perilaku anak termasuk normal, tetapi yang bersangkutan mengalami kerusakan biologis serius; dan sebaliknya anak secara fisik normal , tetapi menunjukkan gangguan emosi dan perilaku secara serius. Hal yang pasti adalah anak lahir dengan kondisi fisik biologis tertentu akan menentukan styleperilaku (temperamen). Anak yang mengalami kesulitan menempatkan temperamennya, akan memberikan kecenderungan untuk berkembangnya kondisi kelainan perilaku dan emosi. Faktor-faktor yang memberikan konstribusi terhadap buruknya temperamen seseorang antara lain penyakit, malnutrisi, trauma otak (Hallahan & Kauffman, 1991).
Dari pemeriksaan electro encephalogram (EEG) ditemukan, bahwa hasil EEG dari anak-anak yang melakukan perbuatan menyimpang ada kelainan. Pada orang dewasa kelainan EEG diketahui pada orang-orang yang telah melakukan perbuatan kriminal. Kelainan hasil EEG tersebut merupakan indikasi jika salah satu bagian otak mengalami kerusakan (brain damage), secara fisiologis fungsi otak tersebut menjadi kurang/ tidak sempurna (brain disfunction). Selain itu, kelainan pada kelenjar hyperthyroid menyebabkan anak sukar menyesuaikan diri dan mengalami gangguan emosi, Glandular disturbances such as hyperthyroidism may be the basis of maladjusment in school and apparent emotional disturbance (Kirk, 1970).
- Faktor eksternal
- 1. Faktor Psikososial
Tidak semua ketunalarasan timbul dari perasaan frustasi ekibat pertentangan antara kemauan anak dengan kepentingan lingkungan, pengalaman masa kanak-kanak di rumah, kondisi sosial ekonomi di lingkungannya. Sigmund Freud melaui psikoanalisisnya menjelaskan bahwa ketunalarasan disebabkan pengalaman anak pada usia awal. Pengalaman tidak menyenangkan pada usia awal mengakibatkan anak menjadi tertekan dan secara tidak disadari berpengaruh pada penyimpangan perilaku. Pengalaman anak di rumah seperti kualitas hubungan antara ayah, ibu, serta saudara sekandungnya memberikan pengaruh yang besar pada perilaku anak. Hubungan interaksional dan transaksional menyebabkan saling memengaruhi antara anak dengan orang tua, sehingga jika pada anak terdeteksi mengalami masalah kelainan perilaku dapat dialamatkan pada orang tuanya (Sameroff, Steifer, Zax, 1982). Orang tua yang lemah dalam menegakkan disiplin anak, yang ditandai dengan penolakan, bermusuhan, kekejaman, dapat menumbuhkan perilaku yang menyimpang seperti agresif atau kejahatan lainnya (Hallahan & Kauffman, 1991).
- 2. Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah peletak dasar perasaan aman (emitional security) pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar perasaan aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku pada anak. Faktor yang terdapat dalam keluarga yang berkaitan dengan ganguan emosi dan tingkah laku, diantaranya yaitu:
a. Kasih sayang dan perhatian
Kasih sayang dan perhatian orang tua dan anggota keluarga lain sangat dibutuhkan oleh anak. Kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua mengakibatkan anak mencarinya diluar rumah. Dia bergabung dengan kawan-kawanya dan membentuk suatu kelompok anak yang merasa senasib. Mengenai hal ini Sofyan S. Willis (1981) mengemukakan bahwa mereka berkelompok untuk memenuhi kebutuhan yang hampir sama, antara lain untuk mendapatkan perhatian dari orang tua dan masyarakat.
Selain sikap diatas, tidak jarang diantara orang tua justru memberikan kasih sayang, perhatian, dan bahkan perlindungan yang berlebihan. Sikap memanjakan menyebabkan ketergantungan pada anak sehingga jika anak mengalami kegagalan dalam mencoba sesuatu ia lekas menyerah dan merasa kecewa, sehingga pada akhirnya akan timbul rasa tidak percaya diri/rendah diri pada anak.
b. Keharmonisan keluarga
Berdasarkan hasil studinya, Hetherington (dalam Kirk & Gallagher, 1986) menyimpulkan bahwa hampir semua anak yang mengalami perceraian orang tua mengalami masa peralihan yang sangat sulit. Orang tua yang sering berselisih paham dalam menerapkan peraturan atau disiplin dapat menimbulkan keraguan pada diri anak akan kebenaran suatu norma, sehingga anak akhirnya mencari jalan sendiri dan hal ini dapat saja menjadi awal dari terjadinya gangguan tingkah laku.
c. Kondisi ekonomi
Lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah satu penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan anak, padahal seperti kita ketahui pada diri anak timbul keinginan-keinginan untuk dapat menyamai temannya yang lain, misalnya: dalam berpakaian, kebutuhan akan hiburan, dan lain-lain. Tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut dalam keluarga dapat mendorong anak mencari jalan sendiri yang kadang-kadang mengarah pada tindakan antisosial. G.W. Bawengan (1977) menyatakan bahwa kondisi-kondisi seperti kemiskinan atau pengangguran secara relatif dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk melakukan pencurian, penipuan, dan perilaku menyimpang lainnya.
- 3. Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua bagi anak setelah keluarga. Tanggung jawab sekolah tidak hanya sekedar membekali anak didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan, tetapi sekolah juga bertanggung jawab membina kepribadian anak didik sehingga menjadi individu dewasa yang bertanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap masyarakat yang lebih luas. Akan tetapi sekolah tidak jarang menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku pada anak seperti dikemukakan Sofyan Willis (1978) bahwa dalam rangka membina anak didik kearah kedewasaan, kadang-kadang sekolah juga penyebab dari timbulnya kenakalan remaja.
Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah antara lain disebabkan dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan fasilitas penunjang yang dibutuhkan anak didik. Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran. Anak lebih memilih membolos dan berkeluyuran pada saat ia seharusnya berada dalam kelas. Sebaliknya, sikap guru yang terlampau lemah dan membiarkan anak didiknya tidak disiplin mengakibatkan anak didik berbuat sesuka hati dan berani melakukan tindakan yang menentang peraturan.
Beberapa aspek berkaitan dengan sekolah yang dapat menyebabkan terjadinya ketunalarasan antara lain hubungan sosial guru dan murid yang krang harmonis, tuntutan kurikulum yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak, hubungan antarteman sebaya yang kurang baik (Moerdiani, 1987), kurang perhatian guru tentang hal-hal yang bersifat positif dan konstruktif, kurangnya sarana dan prasarana pengembangan kreativitas, aktivitas. Disiplin sekolah yang longgar, terlalu kaku, tidak konsisten, pembelajaran yang mengorbankan keterampilan anak untuk mengembangkan imajinasi benar dan salah, lingkungan sekolah yang tidak memberikan pengalaman dan perhatian khusus pada anak, merupakan determinan yang dapat memunculkan kelainan perilaku dan emosi pada anak (Hallahan & Kauffman, 1991).
Selain guru, fasilitas pendidikan juga berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas pendidikan berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas yang dibutuhkan anak didik utuk menyalurkan bakat dan mengisi waktu luang mengakibatkan anak menyalurkan aktivitasnya pada hal-hal yang kurang baik. Misalnya: karena tidak ada tempat untuk bermain, anak berkeliaran di tempat-tempat umum sehingga anak-anak mengabaikan waktu belajarnya.
- 4. Lingkungan Masyarakat
Lingkungan tempat anak berpijak sebagai makhluk sosial adalah masyarakat. Menurut Bandura (dalam Kirk & Gallagher, 1986), salah satu hal yang nampak mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu menirukan perilaku orang lain. Disamping pengaruh-pengaruh yang bersifat positif, di dalam lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negatif ditambah hiburan yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak merupakan sumber terjadinya kelainan tingkah laku. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar dimana berbagai fasilitas tontonan dan hiburan yang tak tersaring oleh budaya lokal.
Contoh hasil studi tentang ekspresi perilaku agresif orang dewasa kepada boneka yang ditayangkan melalui dua versi film (model hidup dan kartun). Hasilnya ternyata kedua kelompok anak yang menonton film tersebut menunjukkan sama agresifnya terhadap boneka. Dalam penelitian lain yang membandingkan dua versi film berbeda (film kartun bertema kekerasan dan tanpa kekerasan), hasilnya tenyata anak yang menonton film kartun tema kekerasan lebih agresif dalam enteraksinya dengan temannya, dan anak yang menonton film kartun tanpa kekerasan tidak menunjukkan perubahan dalam agresi interpersonal (Coby, 1985; Atkinson, 1999).
Ekspresi lain dari kondisi lingkungan masyarakat sekitar yang berpengaruh terhadap kelainan perilaku (tunalaras) anak diantaranya daerah yang terlalu padat, angka kejahatan tinggi, kurangnya fasilitas hiburan/rekreasi, tidak adanya aktivitas yang terorganisasi (Moerdiani, 1987), kurangnya pengajaran agama oleh masyarakat, pengaruh bacaan/film video porno atau sadisme, pengaruh penyalahgunaan abat-obatan terlarang (nafza), dan minuman keras.
Masuknya pengaruh kebudayaan asing yang kurang sesuai dengan tradisi yang dianut oleh masyarakat yang diterima begitu saja oleh kalangan remaja dapat menimbulkan konflik yang sifatnya negatif. Di satu pihak remaja menganggap bahwa kebudayaan asing itu benar, sementara di pihak lain masyarakat masih memegang norma-norma yang bersumber adat istiadat dan agama. Selanjutnya konflik juga timbul pada diri anak sendiri yang disebabkan norma yang dianut di rumah atau di keluarga bertentangan dengan norma dan kenyataan di dalam masyarakat. Misalnya: seorang dalam keluarga ditekankan untuk bertingkah laku sopan dan menghargai orang lain, akan tetapi ia menemukan kenyataan lain dalam masyarakat dimana banyak ditemukan tindakan kekerasan dan tidak adanya sikap saling menghargai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar