Memunculkan motivasi belajar untuk anak Tuna Laras

Pengaturan lingkungan belajar
Lingkungan belajar hendaknya ditata atau dikelola sedemikian rupa sehingga anak tidak merasa tertekan. Contoh: lingkungan fisik, yaitu pengaturan meja dan kursi, termasuk ventilasi hendaknya memungkinkan anak merasa tenang dan timbul rasa senang di dalam kelas.
Atmosfer di dalam kelas (suara guru, peraturan) hendaknya tidak terlalu ketat sehingga anak merasa ada kelonggaran dan mereka merasa tidak tertekan. Karena itu alangkah baiknya dalam menyusun dan menetapkan peraturan, hendaknya guru mengajak anak dan orang tua untuk bersama-sama melihat sehingga semua pihak merasa turut memiliki.

Mengadakan kerjasama dengan lembaga lain
Berhubung pendidikan anak tunalaras sifatnya temporer, maka guru harus menyadari bahwa anak ini belajar di sekolah khusus hanya sementara. Karena itu biasa disebut edukasi. Jika anak telah memungkinkan masuk ke sekolah biasa atau ia kembali ke masyarakat, maka perlu kerjasama yang erat dengan pihak terkait untuk dapat mengikuti sistem yang terpadu baik dalam belajar, bekerja, maupun bergaulnya.
Satu hal yang kurang dilakukan oleh pengelola PLB tunalaras adalah kurangnya usaha mengkomunikasikan bagaimana keadaan anak ini sebenarnya. Akibatnya, apa yang dikatakan mengenai anak tunalaras sulit untuk mengalami perubahan yang kearah kemajuan pandangan yang melihat bahwa mereka perlu disediakan lingkungan yang baik atau mendukung perkembangannya. Sementara ini masyarakat lebih menganggap bahwa anak tunalaras  adalah anak yang marusak masyarakat.

Tempat layanan pendidikan
Melihat keadaan mereka sedemikian rupa, maka tempat pendidikannya tidak harus dipisahkan dengan anak normal, akan tetapi lebih baik bila anak ini disatukan dengan anak biasa. Bila mereka ditempatkan pada tempat yang dapat diterima oleh orang banyak atau yang lazim, maka anak ini hanyalah melihat tingkah laku yang sama dengannya.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mengintegrasikan anak tunalaras dengan anak biasa. Syarat tersebut adalah:
(1)   Perbandingan jumlah anak tunalaras dengan anak biasa dalam satu kelas haruslah diperhatikan. Tidak terlalu banyak, akan tetapi kira-kira tidaklah terlalu merepotkan guru biasa. Karena itu di sekolah umum selalu dibutuhkan guru pembimbing khusus dari kalangan guru PLB.
(2)   Persiapan program pendidikan secara khusus. Bila anak biasa mempelajari program sama untuk semua anak, maka bagi anak tunalaras tentu saja harus diperhatikan, baik segi kualitas maupun kuantitasnya. Misalnya, anak tidak perlu diberikan soal agar ia dapat diam, akan tetapi akan lebih bermanfaat bila diberikan tugas sedikit tetapi sering diberikan.
(3)   Kesiapan orang tua ataupun keluarga. Mereka harus diajak memikirkan hal ini dan tentu saja akan siap berunding dengan pihak sekolah bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya anak diejek hingga orang tua merasa tersinggung akan hal itu.
(4)   Kesiapan teman sekelas atau sekolah dimana ia akan diintegrasikan. Anak-anak biasa hendaknya dipersiapkan telebih dahulu dengan memberitahukan kemampuan dan ketidakmampuan temannya yang akan datang belajar bersama-sama mereka.

Perkembangan Kognitif, Kepribadian, Emosi, dan Sosial Anak Tunalaras



  1. 1.      Perkembangan Kognitif Anak Tunalaras
Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Prestasi yang rendah di sekolah disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka alami. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka memiliki intelegensi yang rendah. Memang anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru karena diantara anak yang tunalaras juga ada yang mengalami keterbelakangan mental. Kelemahan dalam perkembangan kecerdasan ini justru yang menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku. Masalah yang dihadapi anak dengan intelegensi rendah di sekolah adalah ketidakmampuan untuk menyamai teman-temannya, padahal pada dasarnya seorang anak tidak ingin berbeda dengan kelompoknya terutama yang berkaitan dengan prestasi belajar. Mengenai hal ini Ny. Singgih Gunarsa (1982) mengemukakan bahwa kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya menimbulkan kesulitan pada anak dengan cara penyelesaian yang seringkali tidak sesuai dengan cara penyesuaian yang wajar.
Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar dapat menyebabkan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya: membolos, lari dari rumah, berkelahi, mengacau dalam kelas, dan sebagainya. Akibat lain dari kelemahan intelegensi ini terhadap gangguan tingkah laku adalah ketidakmampuan anak untuk memperhitungkan sebab akibat dari suatu perbuatan, mudah dipengaruhi serta mudah pula terperosok ke dalam tingkah laku yang negatif.
Disamping anak yang berintelegensi rendah, tidak berarti anak yang memiliki intelegensi tinggi tidak memiliki masalah. Anak berintelegensi tinggi seringkali memiliki masalah dalam penyesuaian diri dengan teman-temannya. Ketidaksejajaran antara pekembangan intelegensi dengan kemampuan sosial mengakibatkan anak mengalami kesulitan penyesuaian diri dengan kelompok anak yang lebih tua (tetapi setara dalam kemampuan mentalnya). Anak yang pintar dengan hambatan ego emosional seringkali mempunyai anggapan negatif terhadap sekolah. Ia menganggap sekolah terlalu mudah dan guru menerangkan terlalu lambat.
Masalah lain yang dihadapi anak ini dalam hubungannya dengan orang lain adalah sikap tidak mau kalah. Mereka selalu ingin berhasil dan tidak mau ikut dalam permainan dengan kemungkinan dikalahkan orang lain. Hal ini nampak dari sikap anak yang selalu ingin lebih unggul dari teman-temannya sehingga apabila suatu waktu dia mengalami kekalahan, maka ia cenderung untuk selalu merasa mudah kecewa.

  1. 2.      Perkembangan Kepribadian Anak Tunalaras
Kepribadian merupakan struktur yang unik, tidak ada dua individu yang memiliki kepribadian sama. Para ahli mendefinisikan kepribadian sebagai suatu organisasi yang dinamis pada sistem psikofisis individu yang turut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam berbagai kelompok dan akan mempengaruhi kesadaran sebagai bagian dari kepribadian akan dirinya. Dengan demikian kepribadian akan menjadi penyebab seseorang berperilaku menyimpang. Menifestasi kepribadian yang teramati tampak dalam interaksi individu dengan lingkungannya, dan pada dasarnya interaksi ini sebagai upaya bentuk pemenuhan kebutuhan.
Tingkah laku yang ditampilkan orang ini erat sekali kaitannya dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Sejak lahir setiap individu sudah dibekali dengan berbagai kebutuhan dasar yang menuntut pemenuhan kebutuhan, dan untuk itu setiap individu senantiasa berusaha memenuhinya yang diwujudkan dalam berbagai lingkungannya. Konflik psikis dapat terjadi apabila terjadi benturan antara usaha pemenuhan kebutuhan dengan norma sosial. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian konflik, dapat menjadikan stabilitas emosi terganggu. Selanjutnya mendorong terjadinya perilaku menyimpang dan dapat menimbulkan frustasi pada diri individu. Keadaan seperti ini yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan dapat menimbulkan frustasi pada diri individu. Apabila keadaan ini berkepanjangan maka dapat menimbulkan gangguan.

  1. 3.      Perkembangan Emosi Anak Tunalaras
Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari tingkah laku anak tunalaras. Ciri yang menonjol pada mereka adalah kehidupan emosi yang tidak stabil, ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat, dan pengendalian diri yang kurang sehingga mereka seringkali menjadi sangat emosional. Terganggunya kehidupan emosi ini terjadi sebagai akibat ketidakberhasilan anak dalam melewati fase-fase perkembangan.
Kematangan emosional seorang anak ditentukan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, dimana anak belajar tentang bagaimana emosi itu hadir dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi-emosi tersebut. Perkembangan emosi ini berlangsung terus menerus sesuai perkembangan usia, akan banyak pula pengalaman emosional yang diperoleh anak.ia semakin banyak merasakan berbagai macam perasaan. Akan tetapi tidak demikian dengan anak tunalaras. Ia tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan menghayati berbagai macam emosi yang  mungkin dapat dirasakan, kehidupan emosinya kurang bervariasi dan ia pun kurang dapat mengerti dan menghayati perasaan orang lain. Mereka juga kurang mampu mengendalikan emosinya dengan baik sehingga seringkali terjadi peledakan emosi. Ketidakstabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misalnya: mudah marah dan mudah tersinggung, kurang mampu memahami perasaan orang lain, berperilaku agresif, menarik diri, dan sebagainya. Perasaan-perasaan seperti itu akan mengganggu situasi belajar dan akan mengakibatkan prestasi belajar yang tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya.


  1. 4.      Perkembangan Sosial Anak Tunalaras
Sebagaimana telah kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau lingkungannya. Hal ini tidak berarti bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membentuk hubungan sosial dengan semua orang. Dalam banyak kejadian ternyata mereka dapat menjalin hubungan sosial yang sangat erat dengan teman-temannya. Mereka mampu membentuk suatu kelompok yang kompak dan akrab serta membangun keterikatan antara yang satu dengan yang lainnya.
Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik tehadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tak berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka. Apabila berhasil sekalipun mereka akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya.


http://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya/

penyelenggaraan pendidikan anak tunalaras/sosial

a. Penyelenggaraan bimbingan dan penyuluhan di sekolah reguler. Jika diantara murid di sekolah tersebut ada anak yang menunjukan gejala kenakalan ringan segera para pembimbing memperbaiki mereka. Mereka masih tinggal bersama-sama kawannya di kelas, hanya mereka mendapat perhatian dan layanan khusus.


b. Kelas khusus apabila anak tunalaras perlu belajar terpisah dari teman pada satu kelas. Kemudian gejala-gejala kelainan baik emosinya maupun kelainan tingkah lakunya dipelajari. Diagnosa itu diperlukan sebagai dasar penyembuhan. Kelas khusus itu ada pada tiap sekolah dan masih merupakan bagian dari sekolah yang bersangkutan. 
Kelas khusus itu dipegang oleh seorang pendidik yang berlatar belakang PLB dan atau Bimbingan dan Penyuluhan atau oleh seorang guru yang cakap membimbing anak.


c. Sekolah Luar Biasa bagian Tunalaras tanpa asrama Bagi Anak Tunalaras yang perlu dipisah belajarnya dengan kata kawan yang lain karena kenakalannya cukup berat atau merugikan kawan sebayanya.

d. Sekolah dengan asrama. Bagi mereka yang kenakalannya berat, sehingga harus terpisah dengan kawan maupun dengan orangtuanya, maka mereka dikirim ke asrama. Hal ini juga dimaksudkan agar anak secara kontinyu dapat terus dibimbing dan dibina. Adanya asrama adalah untuk keperluan penyuluhan.


http://lupiq.wordpress.com/2009/10/20/pembelajaran-tuna-laras/

LANDASAN


Berikut ini adalah beberapa landasan atau dasar-dasar hukum Indonesia yang melindungi anak-anak tuna laras untuk mendapatkan pengajaran yang layak pada satu wadah pendidikan:
1. Undang-Undang Dasar 1945.
2. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar.
4. Peraturan Pemerinta No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah.
5. Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1990 tentang Pendidikan Luar Biasa.
6. Keputusan Mendikbud No. 002/U/1986 tentang Pendidikan Terpadu bagi Anak Cacat.
7. Keputusan Mendikbud No. 0491/U/1992 tentang Pendidikan Luar Biasa.
8. Keputusan Mendikbud No. 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa.
9. Keputusan Mendiknas No. 031/O/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Ada Departemen terkait yang memberikan pelayanan pendidikan bagian anak nakal yaitu Departemen Kehakiman dan Departemen Sosial.

Faktor-Faktor Penyebab Ketunalarasan



  • Faktor Internal
1.        Kondisi/Keadaan Fisik
Telah banyak tulisan maupun penelitian yang mengupas masalah kondisi/keadaan fisik dalam kaitannya dengan masalah gsangguan tingkah laku, baik yang merupakan akibat langsung maupun yang tidak langsung.
Ada sementara ahli yang meyakini bahwa disfungsi kelenjar endokrin dapat mempengaruhi timbulnya tingkah laku, atau dengan kata lain kelenjar endokrin berpengaruh terhadap respon emosional seseorang. Bahkan dari hasil penelitiannya, Gunzburg (dalam Simanjuntak, 1947) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endokrin merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar endokrin ini mengeluarkan hormon yang mempengaruhi tenaga seseorang. Bila terus-menerus fungsinya mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan wataknya.
Kondisi fisik ini dapat berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun sensoris yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Kecacatan yang dialami seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan baik berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya.
Masalah ini menjadi kompleks dengan adanya sikap atau perlakuan negatif dari lingkungan. Sebagai akibatnya, timbul perasan rendah diri, perasaan tidak berdaya/tidak mampu, mudah putus asa, dan merasa tidak berguna sehingga menimbulkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan pergaulan atau sebaliknya, memperlihatkan tingkah laku agresif, atau bahkan memanfaatkan kelainannya untuk menarik belas kasihan lingkungan. Dengan demikian jelaslah bahwa kondisi/keadaan fisik yang dinyatakan secara langsung dalam ciri-ciri kepribadian atau secara tidak langsung dalam reaksi menghadapi kenyataan memiliki implikasi bagi penyesuaian diri seseorang.

2.        Masalah Perkembangan
Erikson (dalam Singgih D. Gunarsa, 1985:107) menjelaskan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi mengatasi krisis ini, maka perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga individu dapat mnyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sebaliknya apabila individu tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut  maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terutama terjadi pada masa kanak-kanak dan pubertas.
Adapun ciri yang menonjol pada masa kritis ini adalah sikap menentang dan keras kepala. Kecenderungan ini disebabkan oleh karena anak yang sedang menemukan ‘aku’-nya. Anak jadi marasa tidak puas dengan otoritas lingkungan sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-ledak, misalnya: marah, menentang, memberontak, dan keras kepala.

  1. 3.      Keturunan
Model konseptual dalam pendekatan biologi memandang bahwa apa yang dimiliki anak berkaitan dengan faktor genetik (Hallahan & Kauffman, 1991). Faktor genetik memberikan konstribusi terhadap kondisiSchizophrenia (Plomin, 1989). Walaupun demikian, untuk gangguan perilaku dalam kategori sedang dan berat secara spesifik tetap masih dalam misteri.  Contoh anak autisme adalah bentuk kekacauan neurologis, tetapi penyebab kelainan neurologis tersebut tidak dapat diketahui (Hallahan & Kauffman, 1991).
Salah satu hasil penelitian spektakuler di bidang biologi tentang rekayasa genetika telah dibuat mendell. Hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa keturunan mempunyai peranan kuat dalam meahirkan generasi berikutnya.implementasi teori tersebut dalam identifikasi ketunalarasan bahwa keturunan memberikan banyak bukti bayi yang dilahirkan dalam keadaan abnormal berasal dari keturunan yang abnormal pula. Keabnormalan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang tuanya memberikan konstribusi ketunalarasan kepada generasi berikutnya (Patton, 1991). Beberapa perilaku menyimpang tersebut diantaranya kawin sedarah, seks maniak, alkoholisme, kleptomania, gangguan kepribadian, dan lain-lain.
  1. 4.      Faktor Psikologis
Meier dalam penelitiannya, menghubungkan antara variabel frustasi dengan perilaku abnormal memperoleh kesimpulan bahwa seorang yang mengalami kesulitan memecahkan persoalan akan menimbulkan perasaan frustasi. Akiat frustasi tersebut akan timbul konflik kejiwaan. Bagi individu yang memiliki stabilitas kepribadian yang baik, konflik psikologis tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Namun, bagi mereka yang memiliki kepribadian neurotik, konflik tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik. Akibatnya, timbul perilaku menyimpsng sebagai defence mechanism. Perilaku-perilaku tersebut diantaranya agresivisme (suka memberontak, mencela, memukul, merusak), regresivisme (perilaku yang kekanak-kanakan), resignation (perilaku yang kehilangan arah karena ketidakmampuan mewujudkan keinginannya karena tekanan otoritas).
  1. 5.      Faktor Biologis
Hubungan faktor biologis secara khusus dengan keadaan kelainan perilaku dan emosi sangat jarang ditemukan, sebab kelainan perilaku dan kelainan emosi tidak dapat dideteksi melalui kerusakan biologis. Adakalanya perilaku anak termasuk normal, tetapi yang bersangkutan mengalami kerusakan biologis serius; dan sebaliknya anak secara fisik normal , tetapi menunjukkan gangguan emosi dan perilaku secara serius. Hal yang pasti adalah anak lahir dengan kondisi fisik biologis tertentu akan menentukan styleperilaku (temperamen). Anak yang mengalami kesulitan menempatkan temperamennya, akan memberikan kecenderungan untuk berkembangnya kondisi kelainan perilaku dan emosi. Faktor-faktor yang memberikan konstribusi terhadap buruknya temperamen seseorang antara lain penyakit, malnutrisi, trauma otak (Hallahan & Kauffman, 1991).
Dari pemeriksaan electro encephalogram (EEG) ditemukan, bahwa hasil EEG dari anak-anak yang melakukan perbuatan menyimpang ada kelainan. Pada orang dewasa kelainan EEG diketahui pada orang-orang yang telah melakukan perbuatan kriminal. Kelainan hasil EEG  tersebut merupakan indikasi jika salah satu bagian otak mengalami kerusakan (brain damage), secara fisiologis fungsi otak tersebut menjadi kurang/ tidak sempurna (brain disfunction). Selain itu, kelainan pada kelenjar hyperthyroid menyebabkan anak sukar menyesuaikan diri dan mengalami gangguan emosi, Glandular disturbances such as hyperthyroidism may be the basis of maladjusment in school and apparent emotional disturbance (Kirk, 1970).

  • Faktor eksternal
  1. 1.      Faktor Psikososial
Tidak semua ketunalarasan timbul dari perasaan frustasi ekibat pertentangan antara kemauan anak dengan kepentingan lingkungan, pengalaman masa kanak-kanak di rumah, kondisi sosial ekonomi di lingkungannya. Sigmund Freud melaui psikoanalisisnya menjelaskan bahwa ketunalarasan disebabkan pengalaman anak pada usia awal. Pengalaman tidak menyenangkan pada usia awal mengakibatkan anak menjadi tertekan dan secara tidak disadari berpengaruh pada penyimpangan perilaku.  Pengalaman anak di rumah seperti kualitas hubungan antara ayah, ibu, serta saudara sekandungnya memberikan pengaruh yang besar pada perilaku anak. Hubungan interaksional dan transaksional menyebabkan saling memengaruhi antara anak dengan orang tua, sehingga jika pada anak terdeteksi mengalami masalah kelainan perilaku dapat dialamatkan pada orang tuanya (Sameroff, Steifer, Zax, 1982). Orang tua yang lemah dalam menegakkan disiplin anak, yang ditandai dengan penolakan, bermusuhan, kekejaman, dapat menumbuhkan perilaku yang menyimpang seperti agresif atau kejahatan lainnya (Hallahan & Kauffman, 1991).

  1. 2.      Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah peletak dasar perasaan aman (emitional security) pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar perasaan aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku pada anak. Faktor yang terdapat dalam keluarga yang berkaitan dengan ganguan emosi dan tingkah laku, diantaranya yaitu:
a. Kasih sayang dan perhatian
Kasih sayang dan perhatian orang tua dan anggota keluarga lain sangat dibutuhkan oleh anak. Kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua mengakibatkan anak mencarinya diluar rumah. Dia bergabung dengan kawan-kawanya dan membentuk suatu kelompok anak yang merasa senasib. Mengenai hal ini Sofyan S. Willis (1981) mengemukakan bahwa mereka berkelompok untuk memenuhi kebutuhan yang hampir sama, antara lain untuk mendapatkan perhatian dari orang tua dan masyarakat.
Selain sikap diatas, tidak jarang diantara orang tua justru memberikan kasih sayang, perhatian, dan bahkan perlindungan yang berlebihan. Sikap memanjakan menyebabkan ketergantungan pada anak sehingga jika anak mengalami kegagalan dalam mencoba sesuatu ia lekas menyerah dan merasa kecewa, sehingga pada akhirnya akan timbul rasa tidak percaya diri/rendah diri pada anak.
b. Keharmonisan keluarga
Berdasarkan hasil studinya, Hetherington (dalam Kirk & Gallagher, 1986) menyimpulkan bahwa hampir semua anak yang mengalami perceraian orang tua mengalami masa peralihan yang sangat sulit. Orang tua yang sering berselisih paham dalam menerapkan peraturan atau disiplin dapat menimbulkan keraguan pada diri anak akan kebenaran suatu norma, sehingga anak akhirnya mencari jalan sendiri dan hal ini dapat saja menjadi awal dari terjadinya gangguan tingkah laku.
c.  Kondisi ekonomi
Lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah satu penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan anak, padahal seperti kita ketahui pada diri anak timbul keinginan-keinginan untuk dapat menyamai temannya yang lain, misalnya: dalam berpakaian, kebutuhan akan hiburan, dan lain-lain. Tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut dalam keluarga dapat mendorong anak mencari jalan sendiri yang kadang-kadang mengarah pada tindakan antisosial. G.W. Bawengan (1977) menyatakan bahwa kondisi-kondisi seperti kemiskinan atau pengangguran secara relatif dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk melakukan pencurian, penipuan, dan perilaku menyimpang lainnya.

  1. 3.      Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua bagi anak setelah keluarga. Tanggung jawab sekolah tidak hanya sekedar membekali anak didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan, tetapi sekolah juga bertanggung jawab membina kepribadian anak didik sehingga menjadi individu dewasa yang bertanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap masyarakat yang lebih luas. Akan tetapi sekolah tidak jarang menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku pada anak seperti dikemukakan Sofyan Willis (1978) bahwa dalam rangka membina anak didik kearah kedewasaan, kadang-kadang sekolah juga penyebab dari timbulnya kenakalan remaja.
Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah antara lain disebabkan dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan fasilitas penunjang yang dibutuhkan anak didik. Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran. Anak lebih memilih membolos dan berkeluyuran pada saat ia seharusnya berada dalam kelas. Sebaliknya, sikap guru yang terlampau lemah dan membiarkan anak didiknya tidak disiplin mengakibatkan anak didik berbuat sesuka hati dan berani melakukan tindakan yang menentang peraturan.
Beberapa aspek berkaitan dengan sekolah yang dapat menyebabkan terjadinya ketunalarasan antara lain hubungan sosial guru dan murid yang krang harmonis, tuntutan kurikulum yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak, hubungan antarteman sebaya yang kurang baik (Moerdiani, 1987), kurang perhatian guru tentang hal-hal yang bersifat positif dan konstruktif, kurangnya sarana dan prasarana pengembangan kreativitas, aktivitas. Disiplin sekolah yang longgar, terlalu kaku, tidak konsisten, pembelajaran yang mengorbankan keterampilan anak untuk mengembangkan imajinasi benar dan salah, lingkungan sekolah yang tidak memberikan pengalaman dan perhatian khusus pada anak, merupakan determinan yang dapat memunculkan kelainan perilaku dan emosi pada anak (Hallahan & Kauffman, 1991).
Selain guru, fasilitas pendidikan juga berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas pendidikan berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas yang dibutuhkan anak didik utuk menyalurkan bakat dan mengisi waktu luang mengakibatkan anak menyalurkan aktivitasnya pada hal-hal yang kurang baik. Misalnya: karena tidak ada tempat untuk bermain, anak berkeliaran di tempat-tempat umum sehingga anak-anak mengabaikan waktu belajarnya.

  1. 4.      Lingkungan Masyarakat
Lingkungan tempat anak berpijak sebagai makhluk sosial adalah masyarakat. Menurut Bandura (dalam Kirk & Gallagher, 1986), salah satu hal yang nampak mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu menirukan perilaku orang lain. Disamping pengaruh-pengaruh yang bersifat positif, di dalam lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negatif ditambah hiburan yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak merupakan sumber terjadinya kelainan tingkah laku. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar dimana berbagai fasilitas tontonan dan hiburan yang tak tersaring oleh budaya lokal.
Contoh hasil studi tentang ekspresi perilaku agresif orang dewasa kepada boneka yang ditayangkan melalui dua versi film (model hidup dan kartun). Hasilnya ternyata kedua kelompok anak yang menonton film tersebut menunjukkan sama agresifnya terhadap boneka. Dalam penelitian lain yang membandingkan dua versi film berbeda (film kartun bertema kekerasan dan tanpa kekerasan), hasilnya tenyata anak yang menonton film kartun tema kekerasan lebih agresif dalam enteraksinya dengan temannya, dan anak yang menonton film kartun tanpa kekerasan tidak menunjukkan perubahan dalam agresi interpersonal (Coby, 1985; Atkinson, 1999).
Ekspresi lain dari kondisi lingkungan masyarakat sekitar yang berpengaruh terhadap kelainan perilaku (tunalaras) anak diantaranya daerah yang terlalu padat, angka kejahatan tinggi, kurangnya fasilitas hiburan/rekreasi, tidak adanya aktivitas yang terorganisasi (Moerdiani, 1987), kurangnya pengajaran agama oleh masyarakat, pengaruh bacaan/film video porno atau sadisme, pengaruh penyalahgunaan abat-obatan terlarang (nafza), dan minuman keras.
Masuknya pengaruh kebudayaan asing yang kurang sesuai dengan tradisi yang dianut oleh masyarakat yang diterima begitu saja oleh kalangan remaja dapat menimbulkan konflik yang sifatnya negatif. Di satu pihak remaja menganggap bahwa kebudayaan asing itu benar, sementara di pihak lain masyarakat masih memegang norma-norma yang bersumber adat istiadat dan agama. Selanjutnya konflik juga timbul pada diri anak sendiri yang disebabkan norma yang dianut di rumah atau di keluarga bertentangan dengan norma dan kenyataan di dalam masyarakat. Misalnya: seorang dalam keluarga ditekankan untuk bertingkah laku sopan dan menghargai orang lain, akan tetapi ia menemukan kenyataan lain dalam masyarakat dimana banyak ditemukan tindakan kekerasan dan tidak adanya sikap saling menghargai.

Ciri-ciri Anak Tuna Laras



Penggolongan anak tunalaras secara umum dapat ditinjau dari segi gangguan atau hambatan dan kualifikasi berat ringannya kenakalan, dengan penjelasan sbb :

1) Menurut jenis gangguan atau hambatan

a. Gangguan Emosi
Anak tunalaras yang mengalami hambatan atau gangguan emosi terwujud dalam tiga jenis perbuatan, yaitu: senang-sedih, lambat cepat marah, dan releks-tertekan.
Secara umum emosinya menunjukkan sedih, cepat tersinggung atau marah, rasa tertekandan merasa cemas
Gangguan atau hambatan terutama tertuju pada keadaan dalam dirinya. Macam-macam gejala hambatan emosi, yaitu:
  • Gentar, yaitu suatu reaksi terhadap suatu ancaman yang tidak disadari, misalnya ketakutan yang kurang jelas obyeknya.
  • Takut, yaitu rekasi kurang senang terhadap macam benda, mahluk, keadaan atau waktu tertentu. Pada umumnya anak merasa takut terhadap hantu, monyet, tengkorak, dan sebagainya.
  • Gugup nervous, yaitu rasa cemas yang tampak dalam perbuatan-perbuatan aneh. Gerakan pada mulut seperti meyedot jari, gigit jari dan menjulurkan lidah. Gerakan aneh sekitar hidung, seperti mencukil hidung, mengusap-usap atau menghisutkan hidung. Gerakan sekitar jari seperti mencukil kuku, melilit-lilit tangan atau mengepalkan jari. Gerakan sekitar rambut seperti, mengusap-usap rambut, mencabuti atau mencakar rambut.
Demikian pula gerakan-gerakan seperti menggosok-menggosok, mengedip-ngedip mata dan mengrinyitkan muka, dan sebagainya.
  • Sikap iri hati yang selalu merasa kurang senang apabila orang lain memperoleh keuntungan dan kebahagiaan.
  • Perusak, yaitu memperlakukan bedan-benda di sekitarnya menjadi hancur dan tidak berfungsi.
  • Malu, yaitu sikap yang kurang matang dalam menghadapi tuntunan kehidupan. Mereka kurang berang menghadapi kenyataan pergaulan.
  • Rendah diri, yaitu sering minder yang mengakibatkan tindakannya melanggar hukum karena perasaan tertekan.
b. Gangguan Sosial
Anak ini mengalami gangguan atau merasa kurang senang menghadapi pergaulan. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup bergaul. Gejala-gejala perbuatan itu adalah seperti sikap bermusuhan, agresip, bercakap kasar, menyakiti hati orang lain, keras kepala, menentang menghina orang lain, berkelahi, merusak milik orang lain dan sebagainya. Perbuatan mereka terutama sangat mengganggu ketenteraman dan kebahagiaan orang lain.
Beberapa data tentang anak tunalaras dengan gangguan sosial antara lain adalah:
• Mereka datang dari keluarga pecah (broken home) atau yang sering kena marah karena kurang diterima oleh keluarganya.
• Biasa dari kelas sosial rendah berdasarkan kelas-kelas sosial.
• Anak yang mengalami konflik kebudayaan yaitu, perbedaan pandangan hidup antara kehidupan sekolah dan kebiasaan pada keluarga.
• Anak berkecerdasan rendah atau yang kurang dapat mengikuti kemajuan pelajaran sekolah.
• Pengaruh dari kawan sekelompok yang tingkah lakunya tercela dalam masyarakat.
• Dari keluarga miskin.
• Dari keluarga yang kurang harmonis sehingga hubungan kasih sayang dan batin umumnya bersifat perkara.
Salah satu contoh, kita sering mendengar anak delinkwensi. Sebenarnya anak delinkwensi merupakan salah satu bagian anak tunalaras dengan gangguan karena social perbuatannya menimbulkan kegocangan ketidak bahagiaan/ketidak tentraman bagi masyarakat. Perbuatannya termasuk pelanggaran hukum seperti perbuatan mencuri, menipu, menganiaya, membunuh, mengeroyok, menodong, mengisap ganja, anak kecanduan narkotika, dan sebagainya.

2) Klasifikasi berat-ringannya kenakalan

Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman untuk menetapkan berat ringan kriteria itu adalah:
a. Besar kecilnya gangguan emosi, artinya semikin tinggi memiliki perasaan negative terhadap orang lain. Makin dalam rasa negative semakin berat tingkat kenakalan anak tersebut.
b. Frekwensi tindakan, artinya frekwensi tindakan semakin sering dan tidak menunjukkan penyesalan terhadap perbuatan yang kurang baik semakin berat kenakalannya.
c. Berat ringannya pelanggaran/kejahatan yang dilakukan dapat diketahui dari sanksi hukum.
d. Tempat/situasi kenalakan yang dilakukan artinya Anak berani berbuat kenakalan di masyarakat sudah menunjukkan berat, dibandingkan dengan apabila di rumah.
e. Mudah sukarnya dipengaruhi untk bertingkah laku baik. Para pendidikan atau orang tua dapat mengetahui sejauh mana dengan segala cara memperbaiki anak. Anak “bandel” dan “keras kepala” sukar mengikuti petunjuk termasuk kelompok berat.
f. Tunggal atau ganda ketunaan yang dialami. Apabila seorang anak tunalaras juga mempunyai ketunaan lain maka dia termasuk golongan berat dalam pembinaannya. Maka kriteria ini dapat menjadi pedoman pelaksanaan penetapan berat-ringan kenakalan untuk dipisah dalam pendidikannya.

http://anandapriadmajha.blogspot.com/2013/05/pengertian-anak-tuna-laras.html

Klasifikasi anak tunalaras


Secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi.
William M.C (1975) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut antara lain sebagai berikut:
1.    Anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial:
1.   The Semi-socialize child, anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu. Misalnya: keluarga dan kelompoknya. Keadaan seperti ini datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian anak selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.
2.   Children arrested at a primitive level of socialization, anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya, berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan kearah sikap sosial yang benar dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perhatian dari orang tua yang mengakibatkan perilaku anak di kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian mereka masih dapat memberikan respon pada perlakuan yang ramah.
3.   Children with minimum socialization capacity, anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan/kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersikap apatis dan egois.
2.    Anak yang mengalami gangguan emosi, terdiri dari:
1.   neurotic behavior, anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain akan tetapi mereka mempunyai masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan cemas, marah, agresif dan perasaan bersalah. Di samping itu kadang mereka melakukan tindakan lain seperti mencuri dan bermusuhan. Anak seperti ini biasanya dapat dibantu dengan terapi seorang konselor. Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang berat.
2.   children with psychotic processes, anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya minuman keras dan obat-obatan

Apa Tunalaras ?

Tunalaras ? 

Mungkin kata itu asing bagi kalian yang bukan berasal dari dunia pendidikan khusus.
Tak berbeda padaku, aku pun juga masih proses belajar tentang dunia ini.

Tunalaras merupakan salah satu bagian dari ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).
Istilah tunalaras berasal dari dari kata “tuna” yang berarti kurang dan “laras” berarti sesuai. Jadi anak tunalaras berarti anak yang bertingkah laku kurang sesuai dengan lingkungan.

Menurutku, Winda Eka Sari,

Tunalaras atau juga sering disebut Tunasosial adalah seseorang yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi. Perilakunya menunjukkan sikap yang menyimpang dan tidak sesuai dengan norma dan aturan yang ada. Seseorang itu mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, entah itu di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.

Anak Tunalaras biasanya disekolahkan di SLB E , SLB ini adalah SLB yang khusus untuk tempat belajar anak Tunalaras saja. Diharapkan dengan adanya SLB ini, para penyandang cacat dapat mengoptimalkan kemampuannya dalam menjalani hidupnya. Mereka memiliki bekal untuk mengembangkan potensinya biarpun memiliki sebuah kekurangan.